Laporan Nusantara – Marendal //
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai kegiatan di Pesanggrahan PB Pendawa, Jalan Advokat Raya, Marendal, Jumat (18/9/2026). Setelah pelaksanaan pembagian tugas masing-masing satuan selesai, keluarga besar PB Pendawa mendapat kunjungan dari Ketua Harian PB Pendawa, Hj. Asyifa Ince Marzuki.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Satgas Pendawa Sumatera Utara, Satgas PB Wilayah Langkat Hulu, Satgassus PB, Satgas Medan, Satgas Tebing Tinggi, Satgas Deli Serdang, serta Srikandi PB Pendawa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kesempatan itu, Hj. Asyifa Ince Marzuki menyampaikan sejumlah hal terkait kiprahnya sebagai aktivis dan pemerhati perempuan serta anak. Ia mengatakan, selama ini dirinya bersama pihak-pihak yang terlibat telah memberikan perhatian terhadap korban pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan maupun anak.
Menurut Asyifa, pendampingan yang dilakukan tidak semata-mata berhenti pada tahap awal, tetapi diupayakan sejak korban atau keluarga membutuhkan bantuan hingga proses hukum berjalan.“Ini sifatnya mandiri. Kami membantu sejak awal sebagai kuasa hukum keluarga, mendampingi prosesnya sampai ada putusan hukum. Semua dilakukan dengan tulus dan tanpa memungut atau meminta imbalan. Jadi nol rupiah,” ujar Asyifa.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat sejumlah kasus yang sedang mendapat pendampingan di beberapa provinsi. Namun, penanganannya dilakukan secara hati-hati dan tidak semuanya langsung dipublikasikan kepada masyarakat. “Sekarang ada beberapa kasus di empat provinsi yang sedang kami bantu. Tidak kami publikasikan dulu. Setelah proses persidangan selesai, baru dipublikasikan,” katanya.
Asyifa mengungkapkan, penanganan kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan maupun anak bukan pekerjaan sederhana. Kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, minimnya saksi, hingga posisi sosial pelaku terkadang menjadi kendala tersendiri.
Terlebih apabila kasus terjadi di daerah pedesaan atau wilayah yang jauh dari fasilitas pelayanan hukum dan perlindungan korban. Menurutnya, kondisi seperti itu membutuhkan waktu, tenaga dan pendampingan ekstra. “Kalau kejadiannya sudah beberapa tahun lalu, lokasinya di kampung yang fasilitasnya minim, tentu membutuhkan waktu ekstra. Apalagi kalau pelakunya tokoh masyarakat atau memiliki kedekatan dengan aparat penegak hukum. Prosesnya menjadi lebih rumit,” jelasnya.
Dalam kondisi tertentu, kata Asyifa, diperlukan koordinasi dengan berbagai lembaga dan tingkatan agar penanganan perkara dapat berjalan sesuai prosedur. Ia juga mengapresiasi dukungan sejumlah media dan kontributor yang dinilainya memiliki kepedulian terhadap persoalan perempuan dan anak.
Dalam kunjungannya tersebut, Asyifa juga menyampaikan pandangannya mengenai keberadaan PB Pendawa yang telah berkembang dan memiliki jaringan di sejumlah provinsi di Indonesia. Ia berharap ke depan semakin banyak anggota, khususnya kaum ibu dan Srikandi PB Pendawa, yang dapat mengambil peran positif melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan.
Menurutnya, persoalan pelecehan terhadap perempuan dan anak yang terlihat sederhana sekalipun dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap korban dan keluarganya. Karena itu, ia berharap jaringan PB Pendawa yang tersebar di berbagai daerah dapat menjadi bagian dari gerakan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “PB Pendawa ini ada di beberapa provinsi. Nanti mudah-mudahan ada program yang membuat ibu-ibu dan anggota group lainnya bisa semakin aktif. Karena semakin banyak persoalan yang terlihat biasa, tetapi sebenarnya efeknya sangat luar biasa,” ungkapnya.
Asyifa juga menyampaikan apresiasi terhadap soliditas keluarga besar PB Pendawa di bawah kepemimpinan H. Ruslan, SH. Ia menilai suasana persaudaraan yang dibangun di dalam organisasi menjadi salah satu kekuatan penting untuk menjaga eksistensi PB Pendawa. “Kalau saya lihat, di PB Pendawa ini semuanya aman. Orang-orangnya ramah, tidak petantang-petenteng, slow, dan attitude-nya bagus. Persaudaraannya juga bagus,” ujarnya.
Asyifa menilai, mendirikan sebuah organisasi bukanlah perkara yang paling sulit. Tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan organisasi agar tetap eksis, solid dan bermanfaat selama bertahun-tahun. Ia menyebut PB Pendawa telah melewati perjalanan panjang hingga mencapai usia 27 tahun. “Kalau hanya mendirikan organisasi, sangat gampang. Tetapi mempertahankan sampai berusia 27 tahun dan tetap eksis dari zaman ke zaman, itu yang tidak mudah,” katanya.
Menurut Asyifa, keberadaan PB Pendawa yang telah berkembang dari tingkat bawah hingga memiliki jaringan di berbagai provinsi merupakan sebuah potensi yang perlu terus dirawat. Ia mengatakan, sebagai Ketua Harian, dirinya memiliki tugas untuk menjalankan apa yang menjadi arahan Ketua Umum serta membantu memastikan roda organisasi berjalan. “Ketua Harian itu kalau dalam pemerintahan seperti Sekda provinsi. Tugasnya menjalankan apa yang menjadi arahan pimpinan. Memang sekarang belum maksimal, insyaallah tahun depan kita bisa lebih maksimal,” tuturnya.
Asyifa juga mengingatkan seluruh keluarga besar PB Pendawa agar tetap bijak dalam melangkah, khususnya memasuki tahun-tahun politik. Ia berharap organisasi tetap menjaga persatuan, persaudaraan dan tidak mudah terseret pada hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan. “Tahun-tahun politik ini kita juga harus wise, harus bijak ketika melangkah. Jangan terlalu maju ke depan dalam hal-hal yang bisa membuat kita terpecah,” pesannya.
Di sisi lain, Asyifa mengaku memiliki aktivitas di sejumlah lembaga lain. Namun, ia mengatakan suasana persaudaraan yang dirasakan di PB Pendawa menjadi salah satu hal yang membuat dirinya nyaman berada di tengah keluarga besar organisasi tersebut. Asyifa menegaskan bahwa pendampingan terhadap korban perempuan dan anak merupakan bagian dari kerja sosial yang dilakukan dengan keikhlasan.
Ia berharap siapa pun yang mengalami persoalan pelecehan atau kekerasan, khususnya perempuan dan anak, tidak takut untuk mencari bantuan dan pendampingan. Menurutnya, setiap kasus memiliki karakteristik dan kendala berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang tepat serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
“Kalau di Makassar, kerja sosial itu kami anggap sebagai kerja-kerja Nabi. Tidak digaji. Tetapi menjadi sebuah syukur kalau kita bisa membantu korban dan pelaku mendapatkan proses hukum yang sesuai dengan perbuatannya,” ujarnya.
Sebagai Ketua Harian, Asyifa juga berharap keberadaan PB Pendawa tidak hanya dikenal di Sumatera Utara, tetapi semakin dikenal di berbagai provinsi di Indonesia. Ia menyebut jaringan organisasi yang mencapai sekitar 20 provinsi menjadi modal penting untuk memperkuat persaudaraan sekaligus memperluas kegiatan sosial kemasyarakatan. “Harapan saya, semoga kita semua yang ada di PB Pendawa ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Saya yakin, di bawah kepemimpinan H. Ruslan, SH dan dengan dukungan seluruh anggota yang solid, PB Pendawa bisa terus berkembang,” ungkapnya.
Kunjungan tersebut pun berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Silaturahmi antara jajaran PB Pendawa dan Hj. Asyifa Ince Marzuki diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi, persaudaraan serta semangat pengabdian kepada masyarakat. Bagi keluarga besar PB Pendawa, perjalanan 27 tahun bukan sekadar angka, tetapi menjadi bukti bahwa sebuah organisasi dapat terus bertahan ketika dibangun dengan persaudaraan, kebersamaan dan komitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. (Rafika)















