Laporan Nusantara –DELI SERDANG //
Di tengah aktivitas masyarakat yang terus berjalan, sebuah jembatan gantung penghubung Desa Namo Suro Lama dan Desa Namo Tualang, Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Jembatan yang menjadi akses penting bagi warga tersebut dikhawatirkan dapat memicu kecelakaan apabila tidak segera mendapat perhatian dan perbaikan.
Setiap hari, jembatan ini dilintasi masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari anak-anak yang berangkat ke sekolah hingga warga yang membawa hasil pertanian. Namun, kondisi jembatan yang rusak membuat perjalanan sehari-hari menjadi penuh kekhawatiran, terutama ketika hujan turun dan debit air sungai meningkat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga mengaku masih dihantui rasa cemas setelah jembatan tersebut nyaris terdampak parah akibat banjir bandang sebelumnya. Mereka khawatir, jika tidak segera diperbaiki, akses penghubung antardesa itu bisa semakin rusak dan membahayakan keselamatan pengguna. “Kalau hujan, kami cemas luar biasa. Jembatan ini hampir hilang diterjang banjir bandang kemarin. Tapi belum ada perhatian serius dari Pemkab,” ujar seorang warga.
Jenari (43), warga Namo Tualang, mengungkapkan bahwa jembatan tersebut dibangun melalui swadaya masyarakat. Keberadaannya sangat berarti bagi warga karena menjadi jalur yang mempercepat mobilitas antara kedua desa senin (12 oktober 2026). Tanpa jembatan tersebut, warga harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh melalui Kecamatan Delitua untuk menuju Sibiru-biru. Kondisi ini tentu menambah waktu perjalanan sekaligus biaya transportasi masyarakat.
Bagi warga, jembatan itu bukan sekadar sarana penyeberangan. Lebih dari itu, jembatan menjadi penghubung kehidupan sosial, pendidikan, dan ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada akses tersebut.
Kondisi jembatan yang belum memadai juga menjadi perhatian Kepala Desa Namo Suro Baru, Janial Ginting. Ia menyatakan dukungannya terhadap pembangunan jembatan permanen agar masyarakat dapat melintas dengan lebih aman dan nyaman. “Anak sekolah lewat sini setiap hari dengan rasa takut. Hasil ladang juga sulit dibawa kalau jembatan seperti ini terus. Kami sangat berharap adanya perhatian Pemkab Deli Serdang dengan kondisi jembatan yang memprihatinkan,” tegasnya.
Kondisi ini menggambarkan betapa pentingnya infrastruktur yang layak bagi kehidupan masyarakat di wilayah perdesaan. Kerusakan jembatan tidak hanya menyulitkan perjalanan, tetapi juga berpotensi menghambat kegiatan belajar anak-anak, distribusi hasil pertanian, serta aktivitas ekonomi warga.
Masyarakat berharap Bupati Deli Serdang beserta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait segera meninjau langsung kondisi jembatan gantung tersebut. Mereka menginginkan adanya langkah nyata untuk menilai tingkat kerusakan dan menentukan penanganan yang diperlukan, termasuk kemungkinan pembangunan jembatan permanen.
Warga juga berharap aspirasi yang disampaikan tidak berhenti pada laporan semata, tetapi ditindaklanjuti dengan pemeriksaan teknis, langkah pengamanan, serta rencana perbaikan yang jelas. Sambil menunggu penanganan, kondisi jembatan perlu menjadi perhatian bersama. Keselamatan pengguna, khususnya anak-anak sekolah dan warga yang setiap hari bergantung pada akses tersebut, harus menjadi prioritas.
Jembatan gantung penghubung Desa Namo Suro Lama dan Desa Namo Tualang menjadi gambaran nyata kebutuhan infrastruktur yang layak di tengah masyarakat. Warga tidak sekadar mengharapkan sebuah bangunan baru, tetapi juga kepastian akses yang aman untuk bekerja, bersekolah, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, instansi terkait, serta pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan desa dapat bersama-sama mencari solusi atas persoalan ini. Infrastruktur yang aman bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar masyarakat. Jangan sampai warga harus terus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk menyeberangi sungai dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Harapan warga kini tertuju pada langkah nyata agar jembatan tersebut segera mendapat penanganan yang layak. Sebab, di balik jembatan yang rusak itu, ada anak-anak yang ingin sampai ke sekolah dengan selamat, petani yang ingin membawa hasil ladangnya, dan masyarakat yang mendambakan akses kehidupan yang lebih baik. (Rafika/Tim)














